Home Bola Diego Simeone, Sosok di Balik Kesuksesan Atletico Madrid

Diego Simeone, Sosok di Balik Kesuksesan Atletico Madrid

0
0

BeritaMu.co.id
Foto Source: mirror

Sebelum kedatangan Diego Simeone, Atletico Madrid bukan klub yang
diperhitungkan untuk menyaingi Barcelona dan Real Madrid di Spanyol. Klub
berjuluk Los Rojiblancos tersebut bersaing dengan klub macam Valencia, Sevilla,
dan Athletic Bilbao untuk memperebutkan posisi ketiga di bawah dua klub raksasa
di atas. Tetapi setelah Simeone menangani Atletico, kini mereka menjadi
penantang serius untuk gelar La Liga tiap tahunnya.

Simeone datang ke Atletico pada pertengahan musim 2011-2012 di
tengah kondisi Atletico yang terpuruk. Saat itu Atletico berjuang untuk
menghindari zona degradasi. Gregorio Manzano, pelatih saat itu kemudian
dipecat. Presiden Atletico Enrique Cerezo langsunglah yang menawarkan Simeone
untuk menukangi Atletico. Cerezo terkesan dengan pengalaman Simeone menjuari
dua kali Liga Argentina dengan dua klub berbeda, yakni Estudiantes dan River
Plate. Simeone diberi kontrak 1,5 tahun dengan target mempertahankan Atletico
di La Liga. Tetapi Simeone melakukan pekerjaan luar biasa. Ia membawa Atletico
yang sempat terseok-seok, finish di
posisi kelima klasmen akhir La Liga. Simeone juga berhasil memberi gelar Liga
Europa di musim pertamanya tersebut.

Simeone kemudian membawa Atletico memenangkan tujuh gelar hingga
tahun 2018 yang membuatnya menjadi pelatih tersukses dalam sejarah Atletico. Ia
berhasil memberi dua gelar Liga Europa, dua Piala Super Eropa, satu gelar Copa
Del Rey, satu gelar La Liga, dan satu gelar Piala Super Spanyol. Raihan itu
melampaui raihan pelatih tersukses Atletico sebelumnya, Luis Aragones. Aragones
hanya berhasil mempersembahkan enam trofi untuk Atletico. Simeone berhasil pula
mengukuhkan Atletico sebagai salah satu klub dengan pertahanan terbaik di
dunia. Pada 400 pertandingan pertama bersama Atletico, ia berhasil mencatat 210
clean sheets alias tanpa kebobolan.

Hebatnya, Simeone bukan mengubah Atletico karena kekuatan uang
seperti Chelsea, Manchester City, ataupun Paris Saint Germain. Faktor utama di
balik itu adalah kerja keras. Simeone dikenal sebagai pelatih yang menerapkan
formasi 4-4-2 dengan fokus pada pertahanan. Ia lebih menginstruksikan para
pemainnya untuk melakukan serangan balik cepat atau lewan bola mati untuk
mencetak gol. Simeone sering membuat strategi yang menyebabkan lawan frustrasi
karena tidak bisa menembus barisan pertahanannya.

Baca Juga :  Presiden FIFA Gianni Infantino Sedih Rencana Ekspansi 48 Tim Piala Dunia 2022 Di Qatar Terancam Gagal

Pada saat menjuarai La Liga musim 2013-2014, Atletico hanya
menetak 77 gol sementara Barcelona dan Real Madrid mencetak hingga 100 dan 104
gol.

Simeone membuat Atletico menjadi klub yang khas dengan gaya garis
pertahanan rendah dan rapat atau jarak antar pemain yang sangat dekat. Empat
gelandang yang ia andalkan tidak jauh dari empat bek. Simeone pun membiarkan
lawan untuk menguasai bola. Faktor kiper juga menjadi kunci. Simeone memiliki
beberapa kiper brilian seperti David De Gea, Thibaut Courtois, dan Jan Oblak.
Gaya bertahan 4-4-2 ala Simeone ini kemudian dijuluki sebagai filosofi
Cholismo, merujuk pada julukannya El
Cholo. Gaya ini pernah disebut sebagai catenaccio
(pertahanan gerendel ala Italia) modern.

Selain itu Simeone juga percaya pada para pemain muda. Ia berhasil
mengorbitkan Jose Maria Gimenez, Lucas Hernandez, Saul Niguez, Koke, Angel
Correa, Thomas Partey hingga Antoine Giezmann menjadi pemain papan atas Eropa.
Kepercayaan itu ditopang oleh gaya Simeone yang juga jago dalam memotivasi para
pemainnya. Motivasi tersebut juga membuat Atletico menjadi klub dengan
mentalitas pemenang. Fernando Torres pernah mengungkapkan bahwa ia melihat aura
juara di Atletico setelah ia kembali ke klub pertamanya tersebut.

Mengenai gayanya yang mengandalkan serangan balik cepat untuk
mencetak gol, Simeone pernah menulis di bukunya bahwa sepakbola itu seperti
berburu. Baginya, satu detik bisa mengubah segalanya. Tujuan bisa ada di depan
mata tetapi dalam sekejap akan hilang dan kesempatan kedua tidak akan datang
lagi dengan cepat. Oleh karena itu ia sangat menekankan insting para pemainnya
untuk memanfaatkan peluang serangan balik cepat di tiap pertandingan.

Gaya melatih Simeone ini sebenarnya konsisten dengan gaya
bermainnya saat masih aktif menjadi pemain. Dari tahun 1987 hingga 2006 ia
menjadi pemain yang berposisi gelandang bertahan dengan tipikal pekerja keras
dan tanpa kompromi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here